Canti Tikus Trowulan Mojokerto
Hallo....sahabat gaess, jumpa kembali dengan lereng kelud hanters, All life Explore anytime anywhere.
Semoga sahabat gaess semua, selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang barokah, tentunya dimudahkan segala urusannya. Aamin....!
Kali ini kita akan mencoba mengulas sebuah situs yang menarik untuk kita pelajari dan disimak, yaitu situs Candi Tikus.
Candi Tikus adalah Sebuah Candi sekaligus sebuah Petirtaan peninggalan kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu yang terletak di Kompleks Trowulan, tepatnya di dukuh Dinuk Desa Temon Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Provinsi Jawa Timur Indonesia.
Nama Candi Tikus hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat.
Singkat cerita, pada saat ditemukan, tempat Candi Tikus berada merupakan sarang ribuan tikus. Dari kisah inilah nama sebutan candi Tikus berasal.
Lokasi Candi Tikus.
Candi Tikus terletak kurang lebih 13 kimoter arah sebelah tenggara kota Mojokerto yaitu dari jalan raya Mojokerto - Jombang, tepat di perempatan Trowulan belok ke timur, melewati Kolam Segaran dan kurang lebih 600 meter dari Candi Bajang Ratu di sebelah kiri jalan.
Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs ini dilakukan berdasarkan laporan bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985.
Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun. Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad ke-13 sampai ke-14 Masehi karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu.
Fungsi Candi Tikus.
Bentuk Struktur Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan (tempat pemandian keluarga raja), tetapi sebagian pakar yang lain berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Namun, menaranya yang berbentuk meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan.
Struktur Bangunan Candi Tikus menyerupai sebuah petirtaan berupa sebuah kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya. Hampir seluruh bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 meter × 28,25 meter ini terbuat dari batu bata merah. Yang menarik lagi adalah letaknya yang lebih rendah sekitar 3,5 meter dari permukaan tanah sekitarnya.
Di permukaan paling atas terdapat selasar selebar sekitar 75 centi meter yang mengelilingi bangunan. Di sisi dalam, turun sekitar 1 meter, terdapat selasar yang lebih lebar mengelilingi tepi kolam. Pintu masuk ke candi terdapat di sisi utara, berupa tangga selebar 3,5 meter menuju ke dasar kolam.
Di kiri dan kanan kaki tangga terdapat kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 meter × 2 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Pada dinding luar, masing-masing kolam berjajar tiga buah pancuran berbentuk padma (teratai) yang terbuat dari batu andesit.
Tepat menghadap ke anak tangga, agak masuk ke sisi selatan, terdapat sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran 7,65 meter × 7,65 meter. Di atas bangunan ini terdapat sebuah ‘menara’ setinggi sekitar 2 meter dengan atap berbentuk meru dengan puncak datar. Menara yang terletak di tengah bangunan ini dikelilingi oleh 8 menara sejenis yang berukuran lebih kecil. Di sekeliling dinding kaki bangunan berjajar 17 pancuran (jaladwara) berbentuk bunga teratai dan makara.
Hal lain yang menarik adalah adanya dua jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda yang digunakan dalam pembangunan candi ini. Kaki candi terdiri atas susunan bata merah berukuran besar yang ditutup dengan susunan bata merah yang berukuran lebih kecil. Selain kaki bangunan, pancuran air yang terdapat di candi ini pun ada dua jenis, yang terbuat dari bata dan yang terbuat dari batu andesit.
Perbedaan bahan bangunan yang digunakan tersebut menimbulkan dugaan bahwa Candi Tikus dibangun melalui beberapa tahap. Dalam pembangunan kaki candi tahap pertama digunakan batu bata merah berukuran besar, sedangkan dalam tahap kedua digunakan bata merah berukuran lebih kecil. Dengan kata lain, bata merah yang berukuran lebih besar usianya lebih tua dibandingkan dengan usia yang lebih kecil. Adapun pancuran air dari bata merah diperkirakan dibuat pada tahap pertama pembangunan karena bentuknya yang masih kaku, sedangkan pancuran air dari batu andesit yang lebih halus pahatannya diperkirakan dibuat pada tahap kedua. Walaupun demikian, tidak diketahui secara pasti kapan kedua tahap pembangunan tersebut dilaksanakan.
Semoga kedepan semua misteri sejarah Candi Tikus akan segera menemui titik terang.
Semoga bermanfaat, kurang lebihnya mohon maaf. Ketemu lagi di next video.
Wassalam mualaikum warohmatulohi wabarokatuh...!
Komentar
Posting Komentar